Sabtu, 04 Januari 2014

Sejarah

Silsilah Nabi-Nabi
Hubungan, Penugasan dan Keterangan Lain

No.
Nama
Posisi dan Silsilah
Penugasan
Keterangan
1.
Adam
Manusia pertama, khalifah di bumi
Bumi  manusia
Makhluk jenis baru
2.
Syith
Syith bin Adam
Rasul pertama setelah ada manusia
Tidak disebut namanya dalam AQ
3.
Idris
Idris bin Yarid bin Mihlail bin Qinan bin Ausy bin Syith
Di Mesir, disebut 2 kali (QS 19:56 dan QS 21:85)
Sabar, nabi, wafat di langit keempat 82 tahun
4.
Nuh
Nuh bin Lamik bin Merusyalih bin Idris
Keturunan ke-9 Adam
950 tahun, azab banjir zaman glacial
5.
Hud
Diutus ke kaum Aad yang secara duniawi kuat, sukses
Di al-Ahqaf utara Hadramaut
Azab angin dingin 7-8 hari-malam
6.
Shaleh
Diutus ke kaum Tsamud yang berkebudayaan tinggi
Di al-Hijr, dekat al-Hijaz
Azab gempa
7.
Ibrahim
Ibrahim bin Aazar (keturunan ke-9 Nuh) vs Namrudz
Babilonia, Mesir, Yerusalem, Mekah
175 tahun, bapak para nabi
8.
Ismail
Ismail bin Ibrahim
Mekah
137 tahun
9.
Ishak
Ishak bin Ibrahim
Yerusalem  
180 tahun
10.
Luth
Prunan Ibrahim
Sadum/Sodom, Jordania
Azab gempa
11.
Ya’kub
Ya’kub (Israil) bin Ishak
Fadam A’ram, Irak
Dikenal bernama Israil
12.
Yusuf
Yusuf bin Ya’kub
Negeri Mesir
Happy ending sbg bendaharawan
13.
Syuaib
Mertua Musa
Di Madyan, Syam
Kaumnya bertuhan Aikah, azab gempa
14.
Musa
Menantu Syuaib; musuh Firaun, Qarun, Haman
Mesir, Bani Israil, Yerusalem
120 tahun, cerita terpanjang di AQ
15.
Daud
Daud bin Yisya keturunan ke-13 Ibrahim
Betlehem, Yerusalem
Kalahkan Jalut, jadi raja Bani Israil
16.
Sulaiman
Sulaiman bin Daud
Yerusalem
Pewaris kerajaan plus Balqis Saba’
17.
Ayyub


Diganggu iblis-syetan seizin-Nya
18.
Yunus
Yunus (dzun Nun)
Ninawa, Mesir
Dimakan ikan besar
19.
Zakaria
Keturunan ke-12 Ya’kub
Bani Israil, Yerusalem
Doa dapatkan anak
20.
Yahya
Yahya bin Zakaria
Bani Israil, Yerusalem
Sang pembaptis di Sungai Jordan
21.
Isa
Isa bin Maryam binti Imran
Bani Israil, Baitul Makdis, Yerusalem
33 tahun diangkat Tuhan
22.
Ilyas
2 kali disebut dalam al-Quran
QS al-Anam [6]: 85 dan QS Shaffat [37]: 123
Rasul, saleh
23.
Ilyasa’
1 kali disebut dalam al-Quran
QS Shaad [38]: 48
Rasul, terbaik
24.
Zulkifli
2 kali disebut dalam al-Quran
QS Shaad [48]: 48 dan QS Anbiya [21]: 85
Rasul, sabar, paling baik
25.
Muhammad
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib al-Quraisy
Arab dan dunia sesudahnya
63 tahun, penutup nabi-rasul


Selasa, 03 Desember 2013

Shalat sesuai Tuntunan Nabi


Telaah Pustaka :
Tatacara Shalat yang Terpilih

Judul               : Shalat Sesuai Tuntunan Nabi SAW, Mengupas Kontroversi Hadis Sekitar Shalat
Penulis             : Syakir Jamaluddin, MA
Cetakan           : I, Oktober 2008
Penerbit           : LPPI UMY
Kota                : Yogyakarta
Tebal               : 216 halaman
Peresensi         : Muhammad Nasiruddin*)

Tatacara shalat menjadi penting karena tergolong sebagai ibadah khusus. Kaidah dasar yang berlaku bagi ibadah khusus adalah semua laku ibadah dihukumi sebagai haram hingga ada dalil yang memerintahkannya. Dengan kaidah ini maka setiap gerakan dan bacaan dalam shalat harus ada dasar perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Dari banyak buku tentang shalat sungguh bisa kita jumpai amat banyaknya hadis sebagai dasar shalat itu yang semuanya tentu dihubungkan-dinisbahkan pada tatacara shalat Nabi. Sebagai akibatnya maka muncul banyak ‘versi’ tentang shalat. Penulis buku ini berupaya setelah membanding-bandingkan dan mengkajinya secara ilmiah berbagai hadis, terutama yang kontroversial dari banyak kitab-rujukan maka terpilihlah gerakan-bacaan shalat seperti yang kemudian terkumpul dalam buku ini. Maka, inilah tatacara shalat yang sudah terpilih, tentu saja menurut penulis-penyusunnya.
Pendekatan yang dipilih penulis adalah kritik hadis yakni kritik sanad serta matan hadis dengan meneliti sumber pengutipan hadis dalam kitab-kitab hadis induk. Hadis dalam kategori daif jidan (lemah sekali) tidak dipakai sebagai dalil; sementara hadis daif biasa selama ada dalil pendukungnya minimal sederajat sehingga menjadi hadis hasan li ghairihi (hasan karena yang lainnya) masih dipakai sebagai dalil. Lantas bila ada pertentangan antar dalil yang sama-sama maqbul, maka langkah yang ditempuh adalah pertama mengkompromikan; jika tidak bisa dikompromikan maka langkah kedua dengan at-Tarjih, mencari dalil yang lebih kuat; namun jika masih juga belum tuntas maka langkah ketiga dengan nasikh-mansukh yakni dalil yang belakangan menghapus hukum dalil yang datang terlebih dahulu. Pendekatan begini telah ditempuh oleh mayoritas ulama. Untuk buku ini, persoalan fiqh seputar shalat yang sudah disepakati dan tidak ada masalah krusial di masyarakat cukup dibahas secara singkat, namun persoalan kontroversial yang banyak diperselisihkan dibahas secara detail dengan pendekatan kritik hadis tersebut.
Namun sebelum melangkah lebih jauh perlu disadari bahwa persoalan shalat tidak sekadar pada tatacara fiqhiyah seperti yang ada dalam buku ini. Terdapat dimensi lain yang juga terkandung dalam shalat seperti kekhusyukan, filosofi, fadhilah, hikmah ataupun dimensi kualitatif lain yang mencakup kedalaman ruhaniah dan sisi moral-spiritual.. Itulah dimensi yang terus akan berkembang dan bisa bersifat subjektif. Oleh karena itu agar tidak terjadi reduksi atas shalat, aktivitas ritual penyembahan resmi manusia kepada Sang Khalik ini, perlu untuk dicakup segenap dimensinya yang ada. Memang membincangkan shalat tanpa tatacaranya yang benar ibaratnya membahas siluman, yakni hanya unsur jiwa tanpa unsur raga; sebaliknya membincangkan tatacara shalat tetapi meninggalkan ‘jiwa shalat’ ibaratnya juga hanya membahas patung-arca yakni unsur raga yang tanpa jiwanya. Kedua sisi tersebut memang bersifat komplementer, saling melengkapi.

Buku-buku tentang Shalat
Buku pegangan ummat Islam Indonesia yang sudah dicetak mulai tahun 1950 dan hingga kini masih terus dicetak-ulang dengan revisi adalah susunan Teungku Muhammad Hashbi ash-Shiddieqy yang berjudul Pedoman Shalat (Pustaka Rizki Putra, Semarang, Cetakan Ketiga, Edisi Kedua, 1999; 590 halaman). Buku tebal tanpa gambar-ilustrasi ini memang dikenal sebagai buku berbahasa Indonesia tentang shalat yang paling tua, standar, dan lengkap meskipun sistematika dan gaya penulisannya saat ini tampak sudah out of date. Anak-muda zaman sekarang sudah enggan dan tidak mau membacanya kecuali dengan ‘terpaksa’. Lantas buku lain yang cukup fenomenal namun sesungguhnya yang lebih signifikan berupa pelatihannya adalah yang disusun oleh Abu Sangkan, Pelatihan Shalat Khusyu’, shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam (Baitul Ihsan, Jakarta, Cetakan Kelima, 2005; 136 halaman). Buku ini tampak secara jelas lebih menawarkan metode shalat sebagai sarana untuk menemukan relaksasi dan meningkatkan kebahagiaan hidup pelakunya. Oleh karena itu pendekatan dan kecenderungannya memang bersifat filosofis dan mementingkan motivasi ‘jiwa’.
Buku edisi luks yang diterbitkan resmi oleh Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) adalah susunan H. Subagdja Prawata yang berjudul Panduan Shalat Menurut Sunnah Rasululah SAW Praying Guidance According to Prophet Muhammad SAW (Perum PNRI, Jakarta, Cetakan I, 2003, 553 halaman). Buku cukup tebal yang indah berwarna-warni dengan ilustrasi foto model ini sungguh layak dipajang di hotel-hotel, tempat wisata, atau dibawa kaum jetset karena juga ada terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sayangnya meskipun dirujukkan kepada rasul namun tuntunan-praktisnya dipilihkan oleh penyusunnya hanya pada satu versi, tanpa keterangan apalagi pembanding versi yang lain. Sementara untuk kalangan terbatas hadir buku-saku penuntun-praktis yang disusun oleh Agung Danarto, Cara Shalat Menurut Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, telaah terhadap sumber dan kualitas hadist (Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, Cetakan Kedua, 2004; 145 halaman). Buku ini memang hadir untuk menepis munculnya keraguan-kegelisahan warga Muhammadiyah akan tatacara yang ada di dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Inilah pilihan resmi cara shalat versi Muhammadiyah, yang diterbitkan terutama sebagai upaya konsolidasi ideologi internal warganya.
Sesungguhnya masih banyak buku tentang shalat yang lain, seperti yang beredar khususnya di lingkungan Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 1976, yakni susunan Drs. Moh. Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (CV Toha Putra, Semarang, Cetakan I, 1976, 127 halaman). Namun yang jelas tampak dari banyak-beragamnya buku tentang shalat juga dari waktu ke waktu terbitnya maka bisa ditandai bahwa pada setiap generasi ataupun setiap lima tahun diperlukan terbitan terbaru buku tentang shalat yang sesuai konteksnya. Sebab selain secara nyata memang ada perbedaan kepekaan dan kebutuhan perseorangan juga pada rentang waktu tersebut ada pola yang sama dan berulang di masyarakat yakni sisi-dimensi yang menjadi prioritas kehidupan sehingga menghajatkan pula tuntunan ataupun rujukan cara mendekatkan diri kepada-Nya yang sesuai dengan perkembangan dan ‘budaya’ masyarakat saat itu. Apalagi jika dikaitkan dengan kekhususan sasaran seperti buku untuk kaum professional, buku untuk awam, orang-orang sakit, para tahanan, artis-jetset, dll. yang masing-masing memang berkebutuhan ‘khusus’ serta membutuhkan tuntunan shalat yang seharusnya persuasif.

Cara-cara ‘Terbaru’
Daya tarik buku ini secara langsung tampak dari materi yang disajikan yakni dikupasnya hadis-hadis kontroversial sekitar shalat. Mungkin hal yang cukup menggelisahkan sebagian ummat Islam saat ini adalah merebaknya perbedaan tatacara shalat ‘terbaru’ seperti posisi tangan saat i’tidal, keras-lemahnya bacaan basmalah, jari telunjuk saat tasyahud, serta cara merapatkan shaf dalam berjamaah. Semua itu dikupas secara tuntas, ada yang panjang namun ada pula yang hanya pendek, bahkan hingga perihal jamak dan qasar shalat, formasi shalat lail, tarawih, hingga lafal takbir ‘ied.. Tetapi hal yang patut disayangkan karena tidak ikut dikupas adalah cara baru dalam mengambil jarak jauh saat bersujud sehingga seakan mau tengkurap, konon hal itu mempercepat munculnya tanda hitam di kening sebagai min atsar as-sujud (tanda-bekas sujud). Sementara perbedaan cara shalat yang ‘lama’ seputar niat, pilihan bacaan iftitah, qunut, doa dalam tasyahud serta bacaan salam tidak dikupas secara panjang, alias hanya sekilas. Boleh jadi sudah dianggap oleh penulis buku ini sebagai pilihan sadar masing-masing penganutnya.
Mengenai posisi tangan setelah i’tidal, penulis berkesimpulan tangan tetap lurus, biasa dan tidak bersedekap di dada karena tidak ada hadis maqbul yang menjelaskan untuk bersedekap setelah i’tidal; kaidah dasar ibadah-khusus adalah semua laku-ibadah haram hingga ada dalil yang memerintahkannya (hlm. 80). Kemudian mengenai keras-lirihnya bacaan basmalah imam saat ber-Fatihah penulis yakin bahwa hadis yang melirihkannya lebih kuat daripada yang mengeraskannya; keduanya memang pernah dilakukan Rasulullah SAW namun beliau lebih banyak melirihkannya (hlm. 74). Adapun mengenai kapan jari telunjuk menunjuk saat tasyahud dan apakah menggerak-gerakkannya, penulis berkesimpulan bahwa setelah duduk tenang, Nabi Muhammad SAW menggerakkan telunjuknya guna menunjuk yakni satu kali di awal duduk saat mulai membaca attahiyyatu lillah. Sebab tidak ada hadis yang tegas menjelaskan kapan waktu menunjuk dan menggerakkan telunjuk kecuali disebut saat berdoa. Isyarat hadis sahih yang ada menegaskan saat Nabi duduk tasyahud menggenggam jari-jarinya kemudian mengangkat telunjuknya (HR Muslim), menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk mulai dari awal tasyahud sampai akhir. Mengenai menggerak-gerakkan telunjuknya termasuk hadis syadz (menyimpang sendiri) juga menyalahi prinsip tumu’ninah (tenang dalam shalat). (hlm. 97). Itulah tiga kesimpulan penulis buku yang semoga mampu menuntun sebagian keraguan-kegelisahan ummat Islam seputar gerakan shalat yang belakangan ini merebak.
Dalam hal merapatkan shaf saat shalat berjamaah, Nabi menganjurkan untuk saling berdekatan dengan merapatkan bahu dan bukan pada kaki (hlm. 124). Persentuhan fisik secara lembut dengan hati yang rela dan saling mengerti akan mendekatkan hubungan antaranggota jamaah; namun sungguh tidak perlu dengan cara memaksakan shaf harus rapat betul apalagi hingga sampai “mengejar-ngejar” kaki jamaah yang lain. Sebab hal seperti itu hanya akan mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan shalat jamaah lainnya; mengejar kaki jelas tidak baik tetapi jauh lebih tidak baik lagi jika menginjak kaki jamaah yang mengejar kaki tersebut.
Namun ada pula satu tuntunan praktis dari penulis yang mampu mengundang diskusi publik yakni pada bacaan salam yang hanya dengan Assalamu’alaikum warahmatullah baik ketika menoleh ke kanan maupun ke kiri; tanpa diikuti kelanjutannya wa barakatuh (hlm. 102). Selain hal ini berbeda dari praktik di masyarakat luas juga berbeda dari hal yang tertera dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Secara nyata penulisnya adalah ustadz, mubaligh yang juga aktivis PP Muhammadiyah sehingga secara sederhana sering diasumsikan sebagai ‘pemeluk’ HPT tersebut. Kendatipun ‘kreativitas’ seperti itu menurut Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA (Ketua Majelis Tabligh dan Tarjih PP Muhammadiyah) dibolehkan oleh HPT (Pengantar, halaman viii) namun kesan yang muncul di mata awam adalah musykilah, mana di antaranya yang lebih rajih?

Format, Isi dan Segmentasi Buku
Buku ukuran setengah kuarto ini terdiri dari tiga bab, secara berurutan adalah Pengantar Ibadah, Thaharah, dan Shalat. Tentu yang paling panjang dan banyak porsinya pada bab Shalat (162 halaman), menyusul bab Thaharah (25 halaman), serta paling pendek adalah bab Pengantar Ibadah (14 halaman). Hal ini menegaskan bahwa fokusnya memang pada shalat yang utamanya pada dimensi fiqhiyah. Buku ini ditulis dengan semangat mencari kebenaran ilmiah sehingga mentolerir perbedaan pemahaman asalkan ada dalil atau landasan yang kuat. Diharapkan oleh penulisnya buku ini mampu menjadi pegangan mubaligh, dosen dan mahasiswa, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dalam Mata Kuliah Fiqh (Ibadah).
Secara umum buku ini cukup bagus dan kita ucapkan selamat kepada penulis yang berhasil menandai ulang tahunnya ke-40 dengan menerbitkan buku keduanya ini setelah buku yang pertama Etika Bercinta ala Nabi (2005). Bahasanya lumayan lancar, sistematika sederhana, materinya penting-kontroversial dan pembahasannya cukup mendalam-tuntas. Kesalahan kecil yang seharusnya bisa dikejar karena cukup fatal adalah kesalahan cetak penulisan arti syahadat (hlm. 28). Jauh akan lebih representatif jika segmentasi konsumennya dipertajam; misalnya dilengkapi dengan gambar-ilustrasi-foto gerakan shalat apalagi dicetak secara luks, berwarna sehingga layak-pajang di hotel ataupun tempat wisata dengan terjemahan dalam bahasa Inggris misalnya. Kalau memang sasarannya adalah dunia akademis tentu perlu diperluas-dipertajam analisis pada masing-masing butir gerakan-ucapan shalat; semuanya dengan pembahasan yang tuntas-ilmiah sehingga bisa menjadi buku rujukan tentang fiqh-shalat. Singkatnya agar tidak kepalang tanggung antara ilmiah atau persuasif-awamiah. Terima kasih.
*) Muhammad Nasiruddin adalah Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Magelang
 

Jumat, 29 November 2013

Doa aneka permohonan

Doa Aneka Permohonan

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . الْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ  .وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ * الَّلهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِيْنِى الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى .  وَ أَصْلِحْ لِى دُنْيَايَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشِى .  وَ أَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى إِلَيْهَا مَعَادِى وَ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَ اجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِى آخِرَهُ . وَ خَيْرَ عَمَلِى خَوَاتِمَهُ  .وَ خَيْرَ أَيَّامِى يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيْهِ
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِيْشَةً هَنِيْئَةُ وَ مِيْتَةً سَوِيَّةً وَ مَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍى وَلاَ فَاضِحٍ
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَسْأَلَةِ وَ خَيْرَ الدُّعَاءِ وَ خَيْرَ النَّجَاحِ وَ خَيْرَ الْعِلْمِ وَ خَيْرَ الْعَمَلِ وَ خَيْرَ الثَّوَابِ وَ خَيْرَ الْحَيَاةِ وَ خَيْرَ الْمَمَاتِ وَ ثَبِّتْنِى وَ ثَقِّلْ مَوَازِيْنِى وَ حَقِّقْ إِيْمَانِى وَ ارْفَعْ دَرَجَتِى  وَ تَقَبَّلْ صَلاَتِى  وَ اغْفِرْ خَطِيْئَاتِى وَ أَسْأَلُكَ الْعُلاَ مِنَ الْجَنَّةِ
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَ عَزَائِمِ مَغْفِرَتِكَ وَ السَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُوْرِ كُلِّهَا وَ أَجِرْنِى مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ اْلآخِرَةِ  . اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تُحَوِّلُ به بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهَا جَنَّتَكَ وَ مِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا  وَ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَ أَبْصَارِنَا وَ قُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَ اجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَ اجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا و لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَ لاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَ لاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَ لاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَ لاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة و فى الآخرة حسنة  و قنا عذاب النار
وصلى الله على نبينا محمد و على أله و أصحابه الأخيار و سلم تسليما كثيرا  آمين.



Aku berlindung kepada Allah dari ulah syetan yang terkutuk
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan sarwa sekalian alam
Ya Allah, salawat-salam semoga menetap pada Nabi kita Muhammad
Dan melimpah pada keluarga, sahabat dan segenap pengikut setianya hingga kiamat. Amien.

Ya Allah perbaikilah untukku agamaku, yang menjadi penjaga urusanku
dan perbaikilah untukku duniaku, yang menjadi lahan penghidupanku
dan perbaikilah untukku akhiratku, yang menjadi tempat kembaliku.
Jadikan hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam meraih setiap kebaikan
dan jadikan mati kelak sebagai istirahatku dari setiap keburukan

Ya Allah jadikanlah kebaikan pada umurku  hingga pada akhirnya
dan kebaikan pada amalku hingga pada penghabisannya
Dan jadikan kebaikan hari-hariku pada hari saat aku menghadap-Mu

Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu kehidupan yang lapang
kematian yang tenang serta cara kembali yang tanpa kesengsaraan dan tanpa kehinaan

Ya Allah aku mohon kepada-Mu masalah yang baik, harapan yang baik, kesuksessan yang baik,
ilmu yang baik, amal yang baik, balasan yang baik, kehidupan yang baik, dan kematian yang baik.
Kuatkan kedudukanku, beratkan timbangan kebaikanku, luruskan imanku dan angkat derajatku, terimalah permohonanku, ampuni kesalahanku dan kuberharap akan surga-Mu  yang tinggi

Ya Allah aku mohon kepada-Mu rahmat-Mu yang wajib, dan keluasan ampunan-Mu,
Kumohon keselamatan dari setiap dosa, kemanfaatan dari setiap kebaikan dan juga keberuntungan berupa surga serta keselamatan dari siksa neraka
Ya Allah, jadikanlah baik balasan bagi kami atas semua urusan
dan berikan pahala pada kami dari setiap luka dunia dan azab akhirat

Ya Allah berilah kami rasa takut yang mampu mencegah kami dari bermaksiat kepada-Mu
berikan rasa taat kepada-Mu yang mampu mengantarkan kami untuk meraih surga-Mu
berikan kami rasa yakin yang meringankan kami dalam mengatasi musibah-masalah duniawi
anugerahilah kami kenikmatan di dalam pendengaran, penglihatan dan kekuatan-kesempatan
selama Engkau masih hidupkan kami; dan jadikanlah itu semua warisan dari kami.
Ya Allah, balaskanlah untuk kami orang-orang yang menganiaya kami
Dan tolonglah kami guna mengatasi orang-orang yang memusuhi kami
Jangan jadikan musibah pada agama kami, jangan jadikan dunia sebagai harapan besar kami jangan pula (dunia) menjadi puncak ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami
orang-orang yang tiada mengasihi kami

Ya Allah jangan tinggalkan pada kami dosa kecuali Engkau mengampuninya
jangan tinggalkan kami masalah kecuali Engkau berikan jalan keluarnya,
jangan tinggalkan kami utang kecuali Engkau melunasinya,
dan hajat-keinginan dari keinginan duniawi maupun ukhrowi kecuali Engkau mengabulkannya
Wahai Zat yang paling Pengasih

Wahai Tuhan kami, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat
serta jagalah kami dari siksa neraka
Semoga salawat dan salam selalu terlimpah pada Nabi kita Muhammad
keluarga dan para sahabat terpilihnya dengan keselatan yang banyak. Amien.

(Bahasa Jawa)
Kawula nyuwun pangreksa dumateng Gusti Allah saking godhanipun syetan ingkang pun laknati
Kanthi nyebut asmanipun Allah ingkang Maha Mirah tur Maha Asih
Sedaya puji kagunganipun Allah, pangeran sekabehing alam
Duh Gusti mugi salawat-salam kunjuk dateng Nabi kita Muhammad
Lan lumeber dumateng keluarga, sahabat lan sedaya pendherek ingkang mituhu dumugi ing dinten kiamat. Amien.

Duh Gusti, mugi paduka nyaeaken agami kula, ingkang dados landesaning urusan kula
Lan mugi paduka nyaeaken donya kula, ingkang dados panggenan gesang kawula
Lan nyaeaken akhirat kula, ingkang akhirat dados panggenan  wangsul kawula
Lan mugi paduka ndadosaken gesang minangka tambahing kasaenan tumrap kawula
Sarta paduka ndadosaken pejah minangka kendel kula saking sedaya  ingkang awon
Duh Gusti, mugi paduka ndadosaken saening umur kula ngantos wusananing kesempatan kula,
tuwin saening amal kula ngantos pungkasaning amalan, sarta dinten sowan kula dateng paduka dados sak sae-saenipun dinten-dinten kula

Duh Gusti, saestu kula nyuwun dateng paduka gesang ingkang sekeca, tuwin pejah ingkang sae sarta wangsul dateng paduka tanpa sangsara lan mboten nista
Duh Gusti, saestu kula nyuwun dateng paduka masalah ingkang sae, panyuwunan ingkang sae,
sak sae-saenipun ilmu, sarta amal ingkang paling sae, ganjaran paling sae, gesang paling sae,
pejah paling sae; mugi paduka angiyataken kawula, ngawrataken timbangan kesaenan kula,
amujudaken iman kula, ngunggahaken drajat kula, nampi panyuwunan kula, ngapunten sedaya
kalepatan kula sarta kawula nyuwun swarga paduka ingkang paling mulya

Duh Allah, saestu kula nyuwun rahmat ingkang temtu paduka paringaken,
pangapunten ingkang paduka pentingaken sarta wilujeng saking sedaya dosa
lan kabegjan lumebet swarga, tuwin wilujeng saking siksa neraka
Duh Allah, mugi paduka nyaeaken ganjaranipun sedaya urusan kawula sarta milujengaken kawula saking kesusahan kula ing donya tuwin siksaning akhirat

Duh Allah, mugi paduka nganugerahi kawula raos ajrih dateng paduka ingkang nyegah kula saking duraka dumateng paduka, sarta raos taat dateng paduka ingkang ndumugekaken kula lumebet swarga paduka, sarta raos yakin ingkang saged ngentengaken kula saking musibah donya,
sarta mugi paduka paring kenikmatan wonten pamireng kawula,
paningal kawula tuwin kekiyatan kawula sadangunipun paduka paring gesang kawula;
mugi paduka ndadosaken kamenangan kula saking tiyang-tiyang ingkang adamel zalim,
mugi menangaken kawula saking tiyang ingkang mengsahi; sampun ngantos paduka ndadosaken musibah wonten ing agami kula, sampun ngantos paduka ndadosaken donya punika sak ageng-agengipun gegayuhan kula tuwin ungguling ilmu kula, lan sampun ngantos nguwaosi kula
tiyang ingkang mboten tresna dateng kula

Duh Allah, sampun ngantos paduka kendelaken dosa kula sahingga paduka paring pangapunten, mboten paduka paring masalah sahingga paduka icali, mboten paring utang sahingga paduka lunasi sarta paring hajat donya tuwin akhirat sahingga paduka kabulaken,
duh zat ingkang paling welas asih
Duh Pangeran kula, mugi paduka paring kasaenan wonten ing donya tuwin akhirat,
lan mugi milujengaken kula saking siksa neraka. Mugi Allah paring rahmat dateng nabi kita Muhammad lan kawula warganipun tuwin para sahabatipun ingkang pinilih
lan mugi paring kawilujengan ingkang kathah. Amien.