Selasa, 09 Juli 2013

Renungan tentang ZIS

Beribadah  ZIS  Lewat  LAZISMU,  Mari!

1.    ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) tergolong ibadah yang berat; bisa terasa lebih berat dibanding ibadah shalat dan puasa. Sebab untuk ber-ZIS seseorang harus menang-mampu mengalahkan terlebih dahulu rasa owel dalam dirinya. Jelas-jelas suatu hal/benda/barang itu sah milik kita sendiri, hasil jerih payahnya, tentu wajar muncul rasa memilikinya, bahkan terpateri kuat. Namun sesaat setelah hal itu diberikan-diinfakkan maka tidak lagi menjadi milik kita, bukan lagi wewenang kita memanfaatkannya. Itulah letak beda ZIS dari ibadah shalat dan puasa yang tanpa rasa owel. Begitu kita berkehendak menjalankan ibadah shalat atau puasa maka otomatis terlakukan ibadah itu tanpa ada sesuatu yang ‘hilang’ dari diri kita.

2.    Namun meskipun berat, ZIS perlu dan harus dilaksanakan. Sebab ZIS inilah ibadah pembeda-penanda paling jelas kualitas iman-takwa seseorang. Meskipun seseorang sudah terus mendirikan shalat dan rajin berpuasa tetap belum berderajat iman-takwa sebelum ber-ZIS. Bahkan secara provokatif Allah SWT berfirman pada QS Ali Imran: 92 bahwa tiada sempurna kebaktian-penghambaan seseorang sebelum menginfakkan sesuatu yang sedang-masih dicintainya. So, sempurnanya iman-takwa atau kebaktian-penghambaan hanya terjadi dengan beribadah ZIS. Berat tetapi harus dan perlu.  

3.    ZIS lewat LAZISMU (Lembaga ZIS Muhammadiyah) bisa lebih berdaya dan berhasil guna. ZIS secara sendiri-sendiri itu baik tetapi kurang berdampak. Bilamana ZIS berjamaah, terkumpul, terfokus maka bisa jauh lebih bermanfaat, berdaya; berpengaruh positif serta berdampak luas. Ibarat lidi yang sebatang seberapa kuat, namun lidi segenggam dan terikat mampu jadi sapu yang bisa membersihkan halaman dari kotoran. Atau ibadah shalat sendirian bernilai satu dan bilamana berjamaah akan berderajat duapuluh tujuh.

4.    LAZISMU Kabupaten Magelang sudah berjalan dan mulai diresmikan pada hari AHAD, 2 Juni 2013 saat diselenggarakan SKBM di Kajoran. Segenap warga dan simpatisan Muhammadiyah di daerah ini yang dimulai dari pimpinannya bahu-membahu mendirikan-membangun lembaga ini. Bulan suci Ramadhan 1434 H ini diancang sebagai awal bangkit-bergeliatnya LAZISMU. Pelaksana harian siap membantu, siap menjemput dana, juga siap melayani konsultasi ZIS. Rekening bisa ditransfer ke BSM Cabang Muntilan No 7777000025 a.n. Lazismu. Atau call dan tempat petugas di PDM (0293-782188) dan seluruh kantor BTM AMMAN: Muntilan (0293-5505761), Dukun (0293-5521266), Salam (0293-588016), Mungkid (0293-5519992), Bandongan (0293-5520328) dan Tempuran (0293-3215033).

5.    Tentang pelipatgandaan pahala ibadah infak termaktub di QS Al-Baqarah [2]: 261
ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& ’Îû È@‹Î6y™ «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y™ Ÿ@Î/$uZy™ ’Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß™ èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o„ 3 ª!$#ur ììÅ™ºur íOŠÎ=tæ ÇËÏÊÈ  
6.    Tentang tanda kesempurnaan kebaktian-penghambaan lewat infak yang dicintai QS 3:92
`s9 (#qä9$oYs? §ŽÉ9ø9$# 4Ó®Lym (#qà)ÏÿZè? $£JÏB šcq™6ÏtéB 4 $tBur (#qà)ÏÿZè? `ÏB &äóÓx« ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇÒËÈ  
7.    Tentang delapan golongan penerima ZIS termaktub di QS at-Taubah [9]: 60
* $yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym ÇÏÉÈ   

Renungan Hidup Aktual

Pilih STRES POSITIF ataukah POSITIF STRES?
Hidup benar-unggul di zaman seperti saat ini sungguh perlu pengelolaan-diri yang standar-pas.
1.        Kondisi lingkungan hidup kita saat ini sungguh rawan, penuh kemungkinan untuk bisa makin baik atau sebaliknya makin buruk. Perubahan baik atau buruk demikian mudah. Kemajuan teknologi tampak mempercepat perubahan itu sehingga tahu-tahu sesuatu sudah berada di atas tanpa tahu proses-naiknya, demikian pula tiba-tiba di bawah tanpa tahu proses turunnya. Faktor penentu perubahan juga tampaknya makin banyak dan makin beraneka-ragam. Seolah siapa saja ataupun apa saja bisa menjadi faktor pengubah apalagi ada provokasi berbagai pihak. Semua hal diprovokasi unlimited. Semua hal dipaksa jadi cepat, jadi besar, jadi banyak, bagaimanapun proses dan keadaannya. Gebyah uyah. Sejalan dengan dominasi zaman yang sarat Materialisme, Egoisme, Persaingan (MEP) maka sisi kehidupan yang menonjol seolah hanya sisi yang lahiriah-kuantitatif-instan. Inilah potret yang kini terjadi yakni eksklusif yang tentu saja tidak proporsional, tidak alami.

2.        Kehidupan yang normal-alami-proporsional tentu bersifat inklusif-mencakup. Logikanya kalau ada yang unlimited tentu ada yang limited, ada yang bisa cepat-besar-banyak juga ada yang tetap lambat-kecil-sedikit. Zaman pun selain warna MEP juga ada warna lain yang Immaterialisme, Altruisme, Sinergi (IAS) sehingga penting pula hal-hal yang bersifat batiniah-kualitatif-prosesif. Oleh karena itu mari jangan sampai terjebak pada cepatnya perubahan, kita perlu proporsional dalam menempatkan banyak hal di lingkungan kita. Memang ada hal yang perlu cepat, namun ada hal yang perlu lambat, ada yang perlu besar dan ada yang perlu kecil, ada hal yang perlu banyak dan ada yang perlu sedikit. Berpikir dan bersikap proporsional dan jangan rakus, lebih mementingkan dan berorientasi-mengarah ke masa depan yang lebih baik, lebih benar, serta lebih-indah daripada kepentingan sesaat.

3.        Bahwa hidup kita ke depan nanti kitalah pelaku-utamanya, kitalah pengarahnya, kitalah faktor terpenting bersama Tuhan Allah SWT, dan bukan ditentukan orang lain lagi, siapapun itu. Untuk itu mari rumuskan harapan kita di masa depan (dekat dan jauh) serta rencanakan dengan program menyeluruh-rinci untuk bisa diraih. SMART. Jalankan optimal. Tentu saja ketika menjalankan program ini kita dalam kondisi stress tetapi stress yang positif (EUSTRESS). Ya, keadaan jiwa tertekan yang terjadi karena dorongan maju-positif, timbul dari jarak kondisi saat ini dengan tujuan-sasaran-harapan yang belum tercapai. Demikianlah stress positif yang sengaja dipilih guna diraihnya harapan masa depan. Stress menyenangkan

4.        Jika tidak bersedia menjadi pelaku-utama hidup diri kita sendiri maka hal yang terjadi adalah (1) merasa sebagai korban keadaan, korban perubahan, (2) membenci kesibukan dan pekerjaan yang selama ini kita lakukan, serta (3) mengeluhkan berbagai tekanan hidup yang dialaminya. Inilah kondisi stress-negatif (DISTRESS) alias yang bersangkutan positif mengidap stress, tertekan jiwanya tanpa kendali diri. Sesungguhnya kondisi ini bukan pilihan-sadar melainkan keterpaksaan yang muncul karena tiadanya sikap proaktif (berinisiatif dan bertanggungjawab) atas hidup kita, tidak bersedia menjadi pelaku-utama hidup sendiri sejak dari pikiran sadarnya hingga pada risiko-akibat perbuatannya. Inilah  stress yang menyusahkan, tidak terkendalikan dan cenderung destruktif.


5.        Hasil sebuah penelitian sosial di AS dengan data selama 10 tahun menunjukkan bahwa (1) Orang yang lebih banyak susahnya cenderung lebih mudah terkena penyakit berat, dan (2) Orang yang lebih banyak senangnya cenderung lebih sehat. Bersyukur itu mengikat kebaikan, yakni mencari-cari peluang bahagia, senang, positif dari hidup yang biasa (al-yaum lailan wa naharan) sehingga memicu kesyukuran-kesyukuran baru berikutnya.

Renungan Hidup Saat Ini

PROPORSI  DUNIA  atas  AKHIRAT
1.      Dalam al-Quran kata al-akhirah ‘akhirat’ disebut 115 kali dan tepat sama dengan kata ad-dunya ‘dunia’ yang 115 kali dipakai dari 6428 jumlah ayatnya. Doa sapujagat kita, hasanah dunia dan hasanah akhirat, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirah hasanah waqina azab an-nar (QS Al-Baqarah: 201). Apakah hal itu berarti porsi dunia sama dengan porsi akhirat dalam perhatian hidup benar seorang muslim? QS Al-Qasas: 77 menegaskan bahwa orientasi hidup adalah akhirat, tapi jangan lupakan nasib dunia.

2.      Saat ini kita hidup di dunia. Kita yakini bahwa dulu telah kita lalui hidup di alam ruh dan alam rahim; serta kelak kita akan mengalami hidup di alam kubur dan alam akhirat. Pertanyaannya: Kita manusia itu tergolong makhluk-dunia yang kelak sampai akhirat, ataukah kita sesungguhnya makhluk-akhirat yang saat ini sedang berproses sampai di dunia? Lebih lama mana hidup kita di dunia dengan di akhirat? Bagaimana kita pada tahun 1950 yang lalu? Bagaimana pula kita pada tahun 2050?

3.      Orang Jawa bilang, urip nang ndonya mung mampir ngombe, urip nang akhirat iku sak lawase. Kanjeng Nabi SAW bersabda: Celupkan jarimu di air laut, air yang menetes dari ujung jarimu, itulah dunia seisinya; air yang tertinggal di segenap samudera itulah akhirat nanti. Meski porsi dunia tak seberapa (lama-banyak-besar) dibandingkan akhirat namun kehidupan dunia itu amat menentukan bagaimana warna-kelas-kualitas hidup akhirat nantinya. Dunia amat penting dan menentukan akhirat. Namun sebaliknya, tingkat keyakinan dan konsep akhirat juga signifikan bagi hidup benar manusia di alam dunia ini (QS Yunus:7 dan QS An-Nahl: 60)

4.      QS Ali Imran: 145. Ayat ini bertalian dengan perang Uhud yang umat Islam mengalami kekalahan. Selain karena ada sebagian pasukan yang melakukan desersi, tak jadi ikut berperang (Abdullah ibn Ubay dkk), juga setelah pertempuran pertama berlangsung hingga banyak rampasan perang berlimpahan di medan laga lantas pasukan Islam berebutan merayahnya, bahkan pasukan pemanah yang berada di pos-pos atas bukit pun ikut turun merayah ghanimah: baju besi, pedang, tameng, tombak dll. Maka pada pertempuran yang kedua pasukan Islam menjadi kocar-kacir tanpa formasi perang hingga berakhir kalah. Ada 70-an orang syuhada bahkan Nabi terluka. Al-Quran lantas menyadarkan, memberikan renungan mendasar bahwa memang ada orang yang ikut berperang itu dengan harapan balasan dunia serta ada yang berharap ganjaran akhirat. Apakah harus dipilih salah satu saja di antara dua itu: pahala dunia atau pahala akhirat?

5.      QS Ali Imran: 148 menegaskan bahwa memang ada jenis tertentu manusia yang diberi Allah ganjaran dunia sekaligus ganjaran akhirat. [Ganjaran dunia: ketenangan batin, kemenangan, kecukupan harta, nama-baik, dll. Ganjaran akhirat: surga, ridha Allah dll yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata ataupun tidak terbetik dalam benak manusia]. Dua ayat sebelum ini ternyata menjelaskan bagaimana kok bisa mendapatkan hal ideal-terbagus seperti itu. Ternyata orang-orang ini punya sikap lahir duniawi yang unggul-hebat yakni tidak pernah berkecil hati, tidak melemah dan tidak menyerah dalam mengatasi masalah hidup dengan tetap berada di jalan Allah (ayat 146). Dilanjutkan dengan sikap batin-nya yang selalu saja berdoa dan menjadi sikap dasarnya yang harap-harap cemas: Memohon ampunan atas salah dan sikap berlebihan yang terjadi kemarin-dulu serta memohon dikuatkan keyakinannya dan dibantu dalam menghadapi kaum kafir di masa kini-mendatang (ayat 147).


Renungan Azan

AZAN: Fenomena Unik Menarik

1.    Panggilan untuk melakukan shalat tidak dengan tetabuhan atau bebunyian melainkan dengan kalimat yang menyadarkan: AZAN. Tujuh macam kalimat dengan urutan spiritual yang diulang dilantunkan pada saat manjing waktu-waktu shalat. Sehari lima kali azan per mesjid. Sungguh menarik bila kita mencermati fenomena azan ini. Bisa saja dikaji secara estetika, sosial-budaya, teknologi pendukungnya, hukum, dll. Namun kali ini kita memilih pada (1) urutan redaksi azan, dan (2) momentum penanda pergantian waktu.

2.    Mari kita hayati urutan redaksi azan. Kita mencari logika, kaitan dan fungsi tujuh kalimatnya. Dibuka dengan takbir allahu akbar yang menyentakkan kesadaran; lantas sebuah kesaksian asyhadu anla ilaha illaAllah bertuhankan Allah; disusul kesaksian siapa tokoh akan dipanutinya asyhadu anna muhammad rasulullah. Tiga kalimat ini utuh sebagai stasi awal yang menegaskan bentuk-dasar hidup manusia benar. Kemudian setelah jelas siapa dipertuhankan dan siapa dipanutinya dalam hidup, mari melakukan shalat hayya ala shalat; lantas mari meraih kemenangan-kesuksesan hayya ala al-falah. Ya, ada kemiripan bentuk antara kata al-falah ‘kebahagiaan’ dengan al-fallah ‘petani’ hingga ada keterkaitan makna. Konsep ideal bahagia adalah bertani: mengolah tanah, mengelola tanaman dan menuai panenan. Ada di dalamnya faktor ikhtiar duniawi optimal dengan peparing Allah hasilnya, ad-dunya mazra’atul akhirah. Azan dilanjutkan penguatan komitmen allahu akbar takbir dan penutup la ilaha illaAllah termasuk juga sampai penutup hidup diniawi semoga meraih husnul khatimah penutup yang baik.

3.    Respons pendengar atas azan menyiratkan makna mendalam juga lewat kalimat-kalimat jawabannya. Pada stasi awal, jawabannya berupa pernyataan ulang kalimatnya. Persis. Lantas pada dua kalimat ajakan, dijawablah dengan la haula wala quwata illa billah ‘tiada pelindung dan kekuatan kecuali bersama Allah SWT’. Sungguh jawaban ini mendasar soal hakikat perbuatan manusia yang sepenuhnya bergantung pada perlindungan dan kekuatan dari Allah SWT. Kemudian dua kalimat azan terakhirnya dijawab dengan kalimat pernyataan ulang sebagai penguat-penegas sikap hidupnya menuju ke masa depan: dekat dan jauh.

4.    Tidak di sembarang waktu azan dikumandangkan. Azan dilantunkan menandai adanya pergantian waktu-situasi yang sifatnya alami-spiritualistik: Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isyak. Sering pula azan dikumandangkan saat ancaman-bencana hadir misalnya hujan-angin besar agar segera berganti menjadi aman. Bayi yang lahir diazani ataupun mayit diazani sebelum dikubur menandai adanya pergantian alam: barzah ke dunia dan dunia ke kubur. Ya, azan dikumandangkan menandai pergantian waktu, pergantian zaman, pergantian alam.


5.    Kalimat-kalimat azan berasal dari mimpi dua sahabat Nabi: Abdullah ibn Zain as-Tsa’labah RA dan Umar ibn Khattab RA. Nabi Muhammad SAW menyetujui, menetapkan, kemudian menunjuk Bilal ibn Rabah al-Habsyi sebagai pengumandang azan karena suara yang lantang lagi jernih penuh daya panggil ruhani. Selama Nabi hidup selalu Bilal yang berazan. Namun sesaat Nabi wafat, Bilal tidak kuasa melantunkannya terutama saat mengucapkan syahadat rasul. Bahkan Bilal minta berhenti azan, lantas pergi ke Syiria karena setiap tempat di Madinah mengingatkannya selalu pada Rasulullah. Dan Bilal azan sekali yang terakhir sudah ditunggu oleh kaum muslimin saat Khalifah Umar ibn Khatab RA datang ke Syiria memintanya azan yang disanggupi dan direspons dengan tangisan pendengar-jamaahnya yang semuanya menjadi rindu Rasulullah yang telah wafat.

Renungan Hikmah Puasa 1434

BERPUASA  DI  BULAN  SUCI  RAMADHAN
 : Metode Mengendalikan Kerakusan Manusia

Hari-hari ini orang-orang beriman sedang menjalani ibadah berpantang, al-imsak, berpuasa
Bulan Ramadhan sungguh bulan suci, bulan kesempatan manusia beriman membengkeli jiwa, hidup dan dirinya hingga menjadi lebih benar, memilih hal lebih berarti atas hidup sekali dengan jalan ibadah unik yang seolah memberatkan namun sungguh menantang jiwa: Berpuasa
Kutiba alaikum as-shiyam diwajibkan atas kamu berpuasa. Bentuk perintahnya unik, pasif dan tidak eksplisit siapa yang mewajibkannya, agar manusia sengaja memilih untuk berpuasa dengan kesadarannya sendiri. Puasa bisa lebih baik bila manusia memahami makna dan manfaatnya. Puasa bukanlah tujuan melainkan sarana-alat, Semoga kalian meraih derajat bertakwa. Takwa itu kondisi penuh kesadaran dan kontrol, berdaya-mampu, mengontrol pikiran, perbuatan, perkataan, seks juga makan-minumnya. Semua aktivitas dirinya
Ibadah puasa lebih menggarap hati agar peka dan mampu bergetar seirama spiritualitasnya. Hati bercahaya akan menerangi sekitarnya dan memimpin segenap fakultas jiwa-raganya membentuk amal-perbuatan-karya sebagai wujud kehambaan dan kemanusiaan yang sejati
Rakus dan tamak bawaan dasar manusia fana, simbolnya bayi dengan tangan menggenggam apa saja dan merengek minta minum tergesa-gesa sebanyak-banyaknya. Namun saat akan meninggal dunia posisi tangan terbuka-ka tanpa ketergesaan lagi. Puasa metode dari Tuhan untuk mereduksi kerakusan-ketamakan. Jika tidak direduksi-dikontrol, mirip NAPZA, hal itu kuasa membunuh manusia itu sendiri: Sungguh manusia butuh berpuasa untuk hidupnya benar
Pesan terpenting puasa adalah hidup tidak berlebihan. Meski nyatanya sambil berpuasa ada yang melawan pesan ini, dengan melakukan kompensasi makan saat sahur dan berbuka: kurma, kolak, sop buah, bubur, gule, sate. Berlebihan pula pada sikap yang maunya dimanja bahkan minta proteksi diri: Warung makan dilarang dibuka siang hari, soimin minta dihormati. Sedang sesungguhnya orang berpuasa itu sudah (pasti) siaga menahan godaan, siap-sedia mengatasi masalah apapun yang menghadang, mengubah hambatan jadi peluang. Bukan malah selalu dimanja, dibereskan segalanya, dipasifkan, diobjekkan seperti anak manja
Berpuasa untuk meraih surga? Dulu Nabi Adam AS di surga hidup bersama Siti Hawa; sekali berbuat salah langsung dikeluarkan dari surga-Nya. Berapa kali kita berbuat salah selama ini? Apakah layak kualitas kita ini dimasukkan surga? Apalagi ada yang berani mengklaim, hanya kita yang berhak masuk surga dan selain kita di neraka. Sungguh surga itu hak prerogratif Tuhan. Tidak seorangpun manusia masuk surga karena amalnya, kecuali dengan ridha dan rahmat-Nya. Berpuasa bukan sekadar mencari pahala melainkan mencari ridha Allah ta’ala
Berpuasa meniadakan ilusi-ilusi hidup. Sedih dan gembira dibangun dari ilusi. Berpuasa itu me-nyata, merealitas dan menyatakan. Bahwa dunia ini ladang akhirat, semua unsur duniawi berhakikat sementara. Mari kita luruskan: Berpuasa sebulan ini pengingat. Hidup benar-baik di dunia ini perlu punya pantangan dan kendali yang tegas. Kalau tidak, maka pemantangnya biasa dari badan sendiri atau dipaksa keadaan alam

Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia namun tidak akan cukup memenuhi kerakusan satu orang manusia. Ya, kita ini kaum yang tidak makan kecuali lapar serta makan tidak sampai kenyang. Itulah tradisi besar qanaah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan menjadi kebiasaan umat pengikut ajarannya hingga akhir zaman

Jumat, 05 Juli 2013

Membangun Karakter

Telaah Pustaka

Membangun Karakter Lewat Sekolah?

Judul Buku          : Pembelajaran Al-Islam Reflektif (Reaktualisasi Model Pengajaran Kiai Dahlan)
Penulis                 : Dr. Suliswiyadi, M.Ag.
Penerbit              : UMM Press Magelang
Cetakan               : I, Mei 2013
Tebal Buku         : xii + 171 halaman

                Bisakah membangun karakter hanya lewat Sekolah? Amat berat dan tampaknya mustahil. Sebab minimal tiga ranah harus dirambah yakni budaya, pendidikan dan agama. Pelaku pun harus berasal dari banyak pihak di antaranya ada orang-tua di dalam keluarga, pendidik di sekolah, tokoh di masyarakat dan pejabat di pemerintahan. Oleh karena itu menumpukan persoalan karakter hanya di sekolah sungguh tidak tepat, ibarat menebang pohon besar hanya dengan memakai silet, kapan robohnya. Pembentukan karakter menghajatkan dan melibatkan banyak pihak yang terkait kehidupan peserta didik yang tentu lintas bidang, lintas wilayah bahkan lintas ranah kehidupan.
                Namun sekolah sebagai lembaga simbol kecerdasan-kebaikan-keadaban yang baik-benar-indah sekaligus pusat harapan masyarakat perlu mengoptimalkan diri berperan dalam pembangunan karakter ini. Lewat pendekatan akademik-konseptual penulis buku ini, Suliswiyadi, berikhtiar untuk itu. Penulis yang dikenal menggeluti bidang pendidikan, bahkan tahun 2005-2015 ini menjabat sebagai Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Magelang apalagi disertasinya juga mengangkat soal PAI ini tentu cukup tepat. Ini memang bukan bahan disertasi Suliswiyadi di UIN Suka 2011 tetapi terkait. Suliswiyadi mengeksplorasi wacana karakter dengan fokus pada model pengajian-pengajaran Kiai Dahlan ketika menafsirkan QS Al-Ma’un yang fenomenal itu.
                Kiai Dahlam dalam kuliah subuh di Langgar dhuwur, Kauman Yogyakarta ketika itu menyampaikan uraian surat al-Maun berulang-ulang. Tidak tahan dengan itu, santrinya, H. Soedja’ memberanikan diri bertanya, “Mengapa pelajaran tidak ditambah, Kiai?” Kiai Dahlan balik bertanya, “Apakah kalian sudah mengerti betul?” “Sudah” jawab mereka. “Apakah kalian sudah mengamalkannya?” “Sudah, yakni dengan membacanya dalam shalat”, jelas Soedja’. Pengamalan yang begitu dianggap belum tepat oleh Kiai Dahlan saat itu. Beliau kemudian menunjukkannya dengan cara meminta para santrinya pergi ke pasar guna mendapatkan anak-anak yatim dan orang miskin lantas membawanya pulang, memberinya makan, perlengkapan hidup dan tempat tinggal. Jadilah kemudian ada rumah Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO). Begitulah model yang disebut Suliswiyadi sebagai pembelajaran reflektif.
                Suliswiyadi mengutip J. Drost yang menegaskan adanya lima langkah pembelajaran reflektif, yakni: konteks belajar, pengamalan, refleksi, aksi serta evaluasi. Dengan model ini titik-tekan pembelajaran bergeser dari having religion menjadi being religious dan being humane. Format model Drost ini secara konseptual memang cukup ideal namun apa artinya begitu jika tidak mampu mendorong pada perwujudan yang nyata?
Tiga Penentu Utama
                Azyumardi Azra (2010) menegaskan bahwa pembentukan karakter termasuk dalam pendidikan nilai. Pada pendidikan nilai ini terdapat tiga penentu utama langkah keberhasilannya. Ketiganya adalah (1) hadirnya teladan yang hidup (living exemplary), (2) adanya peran klarifikasi nilai-nilai positif yang ada di lingkungan sosial, serta (3) digunakannya pendekatan berbasis karakter-nilai untuk semua pelajaran yang disampaikan. Suliswiyadi sempat menyebut hal ini (hlm. 99-100) namun hanya sekilas sehingga model pembelajaran yang ditawarkan buku ini menjadi berkesan lebih administratif-akademis. Sedang sesungguhnya persoalan karakter tentu lebih substantif sehingga perlu eksplorasi secara proporsional. Hal ini sejalan dengan ungkapan pendidikan at-tariqah ahammu min al-madah, al-mudarrisu ahammu min at-tariqah, ar-ruh al-mudarris ahammu min al-mudarris (metode-cara lebih menentukan daripada materi, guru lebih menentukan daripada metode-cara, karakter guru lebih menentukan daripada guru).
Pembelajaran Al-Islam Reflektif
                Letak kekuatan buku ini ada pada hubungan tiga tema. Tiga tema itu yakni Kurikulum Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) yang dibuat Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, model pengajian Kiai Dahlan yang fenomenal serta dilengkapi dengan administrasi implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penulis dalam lima bab isi buku ini secara rinci menguraikan mulai dari tradisi pengajaran Kiai Dahlan dalam Dakwah Muhammadiyah, model reflektif dalam pembelajaran al-Islam, serta pengembangan silabus dan RPP al-Islam dalam pembelajaran reflektif. Ada pula contoh konkret perangkat pembelajaran pembelajaran untuk mapel Kemuhammadiyahan, Akhlak dan Al-Quran di tingkat SD/MI, SMP/MTs, juga untuk SMA/MA/SMK. Semuanya lengkap unsur mulai dari Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Program Tahunan, Program Semester, Silabus Pembelajaran, RPP berpola Reflektif. Adapun letak pembeda dari seumumnya RPP adalah ditegaskannya karakter siswa yang diharapkan dengan kegiatan inti berupa (i) eksplorasi pengalaman, (ii) refleksi, serta (iii) aksi dan konfirmasi (hlm 120-160). Kata pengantar buku ditulis oleh Haedar Nashir yang sosiolog sehingga mampu jelas memetakan urgensi ide buku ini.
                Tampaknya penulis sedang memprihatinkan secara serius kualitas pembelajaran AIK yang hingga kini berlangsung di Sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ada pertanyaan nakal: Mengapa orang mau menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Muhammadiyah? Ya, karena tidak perlu khawatir kalau anaknya yang disekolahkan di Muhammadiyah itu lantas akan menjadi Muhammadiyah, apalagi menjadi kadernya; tidak akan. Demikian pernah dikatakan oleh salah seorang personal PP Muhammadiyah. Penulis buku ini tampaknya ingin membuktikan bahwa pembelajaran AIK itu bisa berefek positif dan secara langsung berdampak; baik bagi peserta didik maupun bagi persyarikatan. Oleh karena itu guru AIK di sekolah-sekolah Muhammadiyah jadi perlu untuk mencermati tawaran solusi yang cukup berani dalam buku ini. Apalagi pendidikan yang bermodel Muhammadiyah Boarding School (MBS), peluang berhasil pembentukan karakternya mungkin jauh lebih besar.  Ya, setelah konsepnya utuh perlu untuk diwujudkan secara nyata!
Muhammad Nasirudin, Kepala Perpustakaan Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang