Rabu, 27 November 2013

Resensi Buku



Shalat Terapi Bahagia
Pengantar: Banyak muslim yang tidak mengerti makna bacaan-doa dalam shalat yang dikerjakannya. Kalau kursus Bahasa Arab tentu lama tapi ini cara praktis. Setiap bacaan-doa yang dibaca disarikan dalam tiga butir nilai yang mudah diingat. Shalat seharusnya menjadi solusi problem hidup sehingga pelaku shalat berbahagia setelahnya. Hayya alas shalah, hayya alal falah, mari dirikan shalat dan mari menuju bahagia. Namun nyatanya orang yang marah tetap saja marah setelah shalat. Orang sedih tetap murung, orang minder tetap tak percaya diri. Maka inilah kiat untuk membantu orang yang tidak mengerti Bahasa Arab guna memahami dan menghayati bacaan-doa dalam shalatnya.
Terapi yang dimaksudkan di sini akan berupa cara takbir, rukuk, sujud dan gerakan lainnya yang menghasilkan sikap tawakkal, tuma’ninah dan qanaah (T2Q). Pelaku shalat dilatih untuk menghapus penyakit D3 (dengki, dendam dan dongkol) dan penyakit S2 (serakah dan sombong) yang menjadi sumber penderitaan hidup. Dengan begitu pelaku shalat akan berubah menjadi penuh optimisme, percaya diri, sabar, ikhlas, ridha dan tidak mengeluh atas cobaan-ujian hidup, penuh keyakinan akan pertolongan Allah SWT dan pasrah kepada-Nya. Inilah kunci bahagia tersebut.
Rumus kunci: subhan turut hadir (di) masjid (untuk) aksi sosial. Adapun rinciannya adalah :
Bacaan
Tiga butir nilai kandungan
Rumus
Al-Fatihah
Syukur, bimbingan dan ketahanan iman
Subhan
Rukuk
Tunduk kepada kemauan Allah dan menurut semua perintah-Nya
Turut
I’tidal
Hak pujian hanya bagi Allah dan semua yang kita alami terjadi atas takdir-Nya
Hadir
Sujud
Maaf Allah untuk kita dan keluarga, sinar Allah untuk semua indera kita, serta jiwa dan raga diserahkan sepenuhnya kepada Allah
Masjid
Duduk
Ampunan, kasih, sejahtera dan iman
Aksi
Tasyahud
Sholawat Nabi SAW, persaksian serta tawakkal
Sosial

Dua keuntungan diharapkan muncul dari penerapan metode ini, yakni (i) shalat lebih berkualitas, dan (ii) hidup menjadi lebih bergairah dan berbahagia. Tidak lagi shalat terasakan hambar saja karena dijalankan dengan penuh penghayatan dan perenungan. Apalagi malas-malasan. Kita pelaku yang mengikhtiarkannya, mengisinya dengan kualitas secara sadar dan terus-menerus.
Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag penemu-penerap metode ini kelahiran Lamongan, 5 Juni 1957 adalah guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya. Metode ini dirumuskan, ditulis selama dua tahun setelah ybs menderita sakit selama enam bulan tidak bisa bersuara (2000), lantas sakit lutut dan punggung sehingga ketika rukuk dan sujud “terpaksa” perlahan-lahan dan lama. Ternyata itu jadi cara terapi atas sakitnya. Sembuh. Maka metode inilah hasil renungannya yang lantas ditularkan kepada banyak orang berupa kenikmatan sikap ikhlas, ridha terhadap cobaan dan kepasrahan melalui rukuk-sujud. Penemu-penerap-perumus metode Shalat Terapi Bahagia ini bapak 7 orang anak yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MUI Jawa Timur.
Disarikan dari buku berjudul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, Surabaya, 2012, Cetakan kelima, karangan Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar